Madrasah Al Banat “Memperempuankan perempuanya KMNU "
Oleh : Sri rahayuningsih
Ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa “Berangkat dari keluarga yang
baik akan melahirkan masyarakat yang baik dan dari masyarakat yang baik akan
menciptakan tatanan negara yang baik”
Perempuan dalam islam memiliki kedudukan istimewa, merupakan jawaban bagi orang-orang jahiliyah yang mendudukan kaum Hawa sebagai kalangan rendahan yang patut diperbudak.
Al-quran menegaskan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama, hanya keimanan dan ketakwaanlah yang membedakannya. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga dalam Alquran pun dijelaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Sebab, wanita adalah bagian dari dirinya yang harus dibina dan dididik untuk menjadi bagian hidup yang saling berjalan beriringan di jalan-Nya.
Islam ruang bagi perempuan untuk ikut andil dalam sebuah kepengurusan dan pengambilan keputusan. Suara perempuan dianggap sama dengan suara laki-laki. Tidak sedikit uswah perempuan dari zaman Rasululloh sampai era milenial ini. Siti Khadijah dengan kelembutan dan manajemen ekonominya, hingga membuatnya terkenal sebagai saudagar yang dermawan, Siti Aisyah yang cantik dan cerdas dengan ribuan riwayat haditsnya, Siti Fatimah dengan segenap rasa malu dan ketaatannya, Siti Asiyah dengan kebijaksanaan dan keberaniaannya melawan keberpalingan suaminya, serta Siti Maryam dengan berbagai bentuk keikhlasannya. Bukankah para ibunda tersebut telah terjamin surga?
Diera milenial kita lihat sosok-sosok perempuan tangguh yang berkiprah di ruang keluarga sampai birokrasi negara. Sosok perempuan dibalik perjuangan K.H Hasyim Asyari yang senantiasa menguatkan keletihannya, Nyai Solichah Munawaroh ibunda Gus Dur yang menyelipkan sholawat di setiap memilih beras untuk diberikan kepada anaknya, R.A Kartini kalangan nasionalis yang berjuang melawan deskriminasi gender, dan sosok Tri Rismaharini dengan dua sisi, tegasnya sebagai pemimpin dan lembutnya sebagai seorang ibu serta sosok-sosok perempuan tangguh lainnya yang turut berjuang dalam kemerdekaan negara maupun kemerdekaan sebagai seorang hamba.
Dengan membaca berbagai referensi story dan dinamika history peran perempuan begitu berpengaruh dalam kehidupan. Sehingga dikatakan bahwa
الهر اة عما د البالد اذا صلحت صلحت البالد واذفسدت ذفسدت البالد
“wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik maka baik pula lah negaranya, dan apabila wanitanya rusak maka rusaklah negaranya”
Melihat begitu ugensinya peran perempuan, KMNU IAIN Ponorogo mencoba mengkaji dan menelaah berbagai polemik yang dapat diperbaiki dengan memperbaiki sisi perempuannya. Berlatar belakang banyaknya kader dari kalangan anak rantau yang besar harapan masyarakat ketika dia kembali membawa “oleh-oleh” untuk dibagikan kebermanfaatannya.
Membaca peluang yang ada dengan segala pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan Lembaga Semi Otonom dibawah Kepengurusan KMNU IAIN Ponorogo yang kami beri nama Madrasah Al Banat.
Berpegang teguh pada motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan berorganisasi Madrasah Al Banat kami desain sebagaimana madrasah sungguhan. Yang memiliki kepala madrasah, komite madrasah, ustadz-ustadzah, santri, kurikulum, hubungan masyarakat, dan sarana prasarana. Meski belum diresmikan tapi pondasi itu mulai kami bangun dengan menghimpun kader-kader perempuan untuk ikut andil dalam mensukseskan misi kami.
Untuk kegiatan yang sudah berjalan diantaranya ngaji kitab uyunul masa-il linnissa bersama ustadzah mutakhorijat pondok pesantren Lirboyo Kediri. Kegiatan kedua yang tidak kalah penting adalah pelatihan Tahlil dan muhadhoroh bahasa jawa. Serta kegiatan-kegiatan keputrian lainnya. Agenda kami selanjutnya adalah mengaji tentang etika sosial kemasyarakatan dan isu-isu kontemporer. Tak lain dan tak bukan, ilmu dari madrasah tersebut kami jadikan bekal untuk kelak terjun dalam masyarakat dengan berbagai polemiknya.
Harapan kami dengan adanya Madrasah Al Banat, kader-kader KMNU khususnya perempuan menjadi pribadi yang santun, berbudi pekerti dan berpengetahuan luas serta pandai menempatkan diri. Dan harapan bersama ketika kelak mereka diamahi menjadi seorang istri mereka telah siap untuk mendedikasikan dirinya untuk mengapai Ridlo Allah melalui ketaatan kepada suaminya. Pun ketika dia diamanai menjadi madrasah al ula dia menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan akhlak kepada anak-anaknya sehingga lahirlah generasi-generasi cendekiawan. Dengan demikian mereka akan menjadi tulang rusuk suaminya, tempat terdekat mengadu setelah Tuhannya dan menjadi rahim peradaban serta dibawah kakinya benar-benar mengalir surga untuk anak-anaknya.

Aku bangga jadi perempuan KMNU, tapi aku malu belum bisa berkontribusi sungguh didalamnya.
BalasHapusMaka sebelum kesempatan itu hilang, manfaatkan di KMNU dan jadilah perempuan yang perempuan.
🤲🤲🤲🤲
HapusSemangat menjadi perempuan ♡
BalasHapusSemangat menjadi perempuan ♡
BalasHapus