Dadaku luruh
Ada banyak hal yang membuatku tersentuh
Suara-suara gaduh tapi tak riuh
Air mata terjatuh
Kau berhasil membuatku berlabuh
Adalah pembendaharaan istilah baru dalam kamus hidupku. Organisasi ekstra yang aku dengar pertama kali awal semester satu. Pernah salah seorang teman mengajakku bergabung. Tapi aku menolaknya. Aku yakini tidak ada di dunia ini yang benar-benar kebetulan. Segala sesuatunya pasti telah terskenario dengan baik. Begitupun alurku secara runtut akan aku jelaskan melalui naskah narasi ini.
Kala itu aku sedang mengikuti diklat lanjutan suatu Unit kegiatan Kampus yang diadakan di salah satu objek wisata Kotaku yang jaraknya lumayan jauh dari kampus. Di hari terakhir diklat seperti umumnya, pagi hari di adakan senam pagi. Ada salah seorang anggota yang aku tidak begitu mengenalnya. Dia bertanya apakah boleh pulang dulu? aku menjawabnya dengan pertanyaan memangnya mau kemana? Dari percakapan inilah dia bercerita bahwa ada open recruitmen KMNU IAIN PONOROGO yang diberi nama WAROK 3 dan dia termasuk panitianya. Warok adalah salah satu tokoh yang terdapat dalam komponen pementasan Reog Ponorogo, patung Warok juga sering menghiasai gapuro atau gerbang-gerbang di daerah Ponorogo. Jika diterjemahkan dalam kamus besar bahasa Indonesia Warok berasal dari kata wewarah yang artinya orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Singkat katanya warok adalah seorang jagoan bertopeng karena dia tidak “gila” popularitas. Tapi dalam KMNU IAIN PONOROGO Warok adalah gabungan dari tiga kata Warisan Romo Kyai yang jika di terjemahkan sangat panjang sekali.
Kembali ke ceritaku, saat itu juga setelah aku mendapat penjelasan sedikit banyak tentang KMNU yang hari itu juga pelaksanaan open recruitmen aku segera minta kontak yag dapat aku hubungi. Tanpa pikir panjang aku menghubungi pihak panitia. Dengan sedikit melobi dan panitia mengajukan beberapa syarat. Aku menyetujuinya. Aku kembali memutar otak. Bahkan mungkin fikiran ku sudah tidak lagi di acara diklat itu. Aku berfikir tentang bagaimana aku bisa ke tempat pelaksanaan WAROK sedangkan aku tidak punya kendaraan dan acara Diklat berakhir bada ashar. Akirnya aku mengubungi beberapa temanku untuk aku ajak ikut acara KMNU dari beberapa teman yang aku hubungi hanya satu orang yang mau. Tidak bisa di katakan bagaimana leganya aku saat itu.
Seremoni penutupan diklat itu tertera pada jadwal siang hari. Tapi karena kondisi hujan deras, kami semua tertahan di sana sampai bada ashar. Fikiranku kembali tidak tenang ingin rasanya menangis karena saat itu aku menyanggupi permintaan panitia untuk datang sore hari. Aku melantunkan banyak istighfar karena aku yakini banyak hal yang tidak dapat dibuka dengan fikir tapi bisa dibuka dengan dzikir.
Aku kembali menghubungi panitia bahwa aku belum bisa kesana sore ini. Hujan mulai reda, tapi kami kembali tertahan dengan hilangnya kontak salah satu teman kami. Kami tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu sebelum kontak itu ditemukan. Aku kembali ingin menangis. Bahkan aku sempat bertanya kepada temanku apakah hari ini dia sedang ulang tahun dan dia menjawab tidak. Karena mungkin dia sedang di kerjai atau apalah itu. Dan pencarian kontak itu lumayan lama. Aku masih ingat saat itu aku menulis story di akun sosial whatsapps ku “Sejauh apapun jika itu memang hakmu maka akan sampai”.
Singkat cerita, kurang lebih dua jam perjalanan aku sampai tempat tinggalku. Ba’da isya' aku dan satu temanku berangkat menuju lokasi pelaksanaan WAROK. Dan aku hanya mengikuti satu materi yang hampir saja berakhir ketika aku datang. Aku tidak tahu materi itu berjudul apa. Dan dini hari nanti adalah pembaiatan. Aku tertinggal 3-4 materi. Aku yang sebelumnya belum tau apa-apa hanya ikut apa yang dikatakan panitia. Saat itu aku dan beberapa teman dibangunkan panitia untuk di bawa menemui seseorang terkait ketidakikutsertaan materi. Aku hanya mengangguk karena jika ditilik ke belakang aku tidak begitu paham dengan keaswajaan, ke-Nuan dan istilah kader yang sering di sebut-sebut dalam acara ini.
Tibalah pembaiatan. Kita mencium bendera merah putih dan bendera berwarna hijau bertuliskan Nahdlatul Ulama. Aku hampir menangis karena suasana begitu khidmat dan sakral. Singkat ceritanya lagi akhir tahun itu ada dua agenda besar yaitu Musyawarah Regional 2 di Purwokerto dan Musyawarah Nasional di Bogor. Kami anggota baru diberi ruang untuk ikut belajar. Dan aku termasuk anggota yang diberangkatkan di Munas IV.
Di Munas itulah aku belajar tentang apa KMNU perlahan pertanyaan-pertanyaan yang mengantri jawaban di benakku satu persatu terjawab tentang mengapa, bagaimana, bahkan untuk apa. Dan kerennya lagi kami dapat amanah menjadi tuan rumah acara Rakernas IV. Aku yang baru terbagung di KMNU belum genap tiga bulan diamanahi menjadi sekretaris Rakernas IV dan seorang diri. Benar-benar tak terdefinisikan.
Awal-awal begitu gagap karena aku sendiri yang belum begitu kenal dengan penggurus, sistem dan birokrat KMNU harus berkecimpung begitu dalam menyelami samudera bernama data-data KMNU Pusat. Dan puisi pembuka naskah ini adalah puisi yang saya tulisan h-berapa (H min: read) jam sebelum pelantikan pusat. Dimana saat itu aku benar-benar memaknai sebuah perjuangan, persahabatan dan pengorbanan.
Sebagai kesimpulan:
Jikaulah awal kata yang memantikku untuk tau adalah mengapa
Biarlah tetesan keringat dan deraian air mata yang menjawabnya
Jikaulau kata kedua adalah bagaimana
Biarlah perjalanan yang membuktikan seberapa panjang langkah kaki ini menebar kemanfaatan
Jikaulah kata ketiga dengan tegas untuk apa
Biarlah tertera pada catatan Sang Maha.

Komentar
Posting Komentar